Kringg..
Kringg..
Handphoneku
membunyikan alarm yang ku atur semalam sebelum aku tidur. Dengan mata setengah
terpejam aku mematikan alarm dan melihat jam di layar handphoneku. Baru jam 4
pagi, tapi aku harus segera bersiap jika tidak ingin terlambat. Hari ini adalah
hari pertamaku menjadi seorang mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di
kotaku. Seperti sudah menjadi tradisi, mahasiswa dan mahasiswi baru haruslah
menjalani penggojlokan selama seminggu. Yah, walaupun beberapa tahun yang lalu
sempat dihapuskan kegiatan penggojlokan mahasiswa baru seperti ini, tapi banyak
Universitas yang tetap meneruskan tradisinya. Kalau dulu kegiatan seperti ini
disebut OSPEK namun kali ini sebutan untuk kegiatan ini adalah PPA ( Program
Pengenalan Akademik ). Hari ini kami diharuskan untuk sampai dikampus jam 6
pagi, dan karena aku tinggal di asrama yang hanya menyediakan 8 kamar mandi
untuk 48 anak, otomatis aku harus bangun lebih pagi agar tidak antri.
Namaku
Kanaya Annisa. Usiaku 17 tahun. Aku berasal dari keluarga yang sederhana.
Sebelumnya aku bersekolah di SMK dengan harapan setelah lulus aku bisa langsung
bekerja dan membantu keuangan keluargaku. Tapi Allah memberikan jalan yang
berbeda dari rencana awalku. Prestasiku di SMK bisa dibilang cukup
membanggakan. Aku memenangkan berbagai lomba antar SMK dan juga selalu menjadi
juara umum. Akhirnya, karena dukungan dari guru-guru, teman-teman, dan tentu
saja orang tuaku, aku memberanikan diri untuk mendaftar ke perguruan tinggi dan
Alhamdulillah, Allah memberikan jalan lebih baik dari yang kuharapkan, yaitu
sebuah Beasiswa.
Tanpa sarapan pagi, aku berjalan
bersama maba (mahasiswa baru) yang lain ke fakultas kami masing-masing. Kami
saling berkenalan dan sedikit bertanya tentang jurusan dan asal daerah kami.
Dan darisana aku berkenalan dengan salah seorang teman yang satu jurusan
denganku, Jurusan Bahasa Inggris. Namanya Mentari, tapi dia menyuruhku
memanggilnya Tari. Dari awal berkenalan aku sudah bisa melihat bahwa dia adalah
orang yang menyenangkan dan periang.
Masa
PPA sudah berakhir. Sekarang saatnya aku menjalani keseharianku sebagai
mahasiswa yang katanya dikelilingi berbagai macam tugas dari sang dosen. Tak
masalah bagiku, karena dulu saat SMK aku juga sudah terbisaa menerima banyak
tugas dari guruku.
“Nay,
kamu mau ikut organisasi apa?” Tanya Tari, yang sekarang menjadi teman dekatku
karena selain satu jurusan, kami juga satu rombel (rombongan belajar).
“Nggak
tau nih, Tar. Aku masih bingung. Kamu sendiri gimana?” aku balas bertanya
kepadanya.
“Aku pengen coba ikut Writing Club
yang ditingkat jurusan. Kata beberapa senior kegiatannya keren dan bermanfaat
banget.” Jawabnya. Writing Club? Sebenarnya aku sangat suka menulis. Mungkin
dengan ikut kegiatan ini aku bisa lebih meningkatkan skillku dalam
tulis-menulis. Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung di klub itu.
Hari ini hari Sabtu. Tidak ada
perkuliahan di hari Sabtu dan Minggu. Lalu mengapa aku berada di sebuah ruang
kelas di kampusku? Karena hari ini adalah hari pertama pertemuan Writing Club
semester ini. Kulihat ada sekitar 15 senior dan 20 teman seangkatanku yang berada
diruang kelas yang cukup besar ini.
“Good morning, freshmen.” Sapa salah
satu senior di depan kelas. Serempak kami menjawab salam senior tersebut.
“Terimakasih sudah datang dan mengikuti club ini. Perkenalkan, saya Haikal,
ketua Writing Club ini. Semester 5 prodi pendidikan. Disini nantinya kita akan
belajar dan sharing satu sama lain tentang kepenulisan, baik kepenulisan ilmiah
maupun sastra. Yang perlu kalian ingat adalah, disini kita sharing sebagai
teman, jadi tidak ada kalimat yang semester atas yang lebih pandai dan lebih
mengerti. Maka dari itu, buat kalian, freshmen, speak up your ideas, and let’s
share it each other.” Tepuk tangan menggema didalam ruang kelas.
Club yang cukup mengasyikkan, dihari
pertama ini hanya diisi dengan perkenalan dan keakraban senior dengan junior,
untuk selanjutnya pertemuan diadakan tiap hari Selasa jam 3 sore.
Sebenarnya aku bisa dibilang cukup
professional dalam dunia tulis menulis. Beberapa tulisanku bahkan sudah
menghiasi majalah remaja yang lumayan terkenal. Berawal dari dua tahun yang
lalu, saat aku masih kelas 2 SMK. Aku yang memang hobi sekali menulis mengikuti
lomba menulis artikel yang bertemakan tentang kehidupan sekolah yang diadakan
oleh salah satu majalah terkenal, yaitu majalah FAME. Dan Alhamdulillah di
lomba itu aku menyabet juara pertama. Kemudian artikel dan profilku dimuat di
majalah itu dalam salah satu edisinya. Beberapa hari setelah artikel itu
terbit, pihak majalah menghubungiku dan menawariku untuk menjadi salah satu
freelance di majalah mereka. Aku bisa bekerja online, mengirim artikel atau
tulisan apapun yang kubuat lewat email, dan hanya perlu pergi ke gedung majalah
tersebut sebulan sekali untuk eveluasi. Akupun menyetujuinya. Sekarang sudah 2
tahun aku bekerja disini. Semua karyawan sudah mengenalku dan sekarang aku
datang kekantor redaksi ini 2 minggu sekali karena letaknya dekat dengan kampus
dan asramaku.
“Dek, ada kerjaan baru tuh dari pak
bos.” Kata mbba Ros ketika aku tiba di kantor. Aku mengerutkan dahi heran.
Kerjaan baru apa? Aku kan penulis freelance, apa iya aku disuruh merangkap jadi
OB? Kugelengkan kepalaku menepis pikiran konyol yang baru saja melintas
dikepalaku. “Apaan mbba?”tanyaku kemudian. “Langsung ke ruangan bos aja
deh,”jawabnya. Akupun mengangguk dan bergegas pergi ke ruangan bosku.
Tok. Tok. Tok. Kuketuk pintu ruangan
bosku. “Masuk.” Sahut suara dari dalam. Akupun membuka pintu dan masuk kedalam
ruangan itu. Ternyata bosku tidak sendiri di ruangannya. Ada seorang laki-laki
yang sedang mengobrol dengannya, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena
posisinya yang membelakangiku. “Ah, Nay.. kamu sudah datang. Silakan duduk.”
Ucap pak bos ketika melihatku memasuki ruangannya. Akupun mendudukkan diriku di
sofa di ruangan itu. “Perkenalkan, ini keponakan saya, Haikal. Dia akan mulai
bekerja disini sebagai freelance sepertimu.” Kata pak bos mengenalkan laki-laki
tadi. Loh, ini sepertinya kakak ketua Writing Club yang kemarin. “Haikal,”kata
laki-laki itu sambil mengangsurkan tangannya. “Naya,”kataku sambil mejabat
tangannya. “Jadi begini, Nay. Karena kamu sudah cukup berpengalaman dibidang
ini, saya mau kamu membimbing keponakan saya ini. Mulai sekarang kalian akan
bekerja sama dalam menulis artikel dan mencari berita. Karena saya tahu kalian
satu kampus, jadi saya kira tidak akan jadi masalah tentang waktu bertemu
kalian, kan? Kalian juga hanya perlu kemari 2 minggu sekali. Bagaimana?” aku?
membimbing kak Haikal? Apa tidak salah? Kurasa dengan jabatannya sebagai ketua
Writing Club membuktikan bahwa kemampuan menulisnya pasti diatas rata-rata, dan
catat, dia adalah seniorku, dua tingkat diatasku. Bagaimana mungkin malah aku
yang membimbingnya?
“Naya. Kamu mendengarkan apa yang
saya sampaikan barusan kan?” Tanya pak bos, mungkin karena aku tidak merespon
apa yang beliau sampaikan. “Eh, iya pak saya mendengarkan apa yang bapak
sampaikan tadi, hanya saja saya merasa pengalaman yang saya miliki masih
sedikit sekali, apa bapak tidak salah menyuruh saya membimbing kak Haikal?”
jawabku akhirnya. Pak Bos tersenyum menatapku, kemudian saling melempar senyum
dengan kak Haikal. “Yah, kalau begitu jangan anggap ini sebagai beban untuk
kamu membimbing Haikal. Kalian bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman
bersama, tapi seperti yang saya katakan tadi kalian sekarang akan menjadi satu
tim. Dan Naya, kamu tidak memiliki hak untuk menolak keputusan saya. Haikal
juga sudah menyetujuinya tadi.” Jelas pak Bos panjang lebar. Aku langsung
mengalihkan pandanganku ke Kak Haikal yang ternyata sedang tersenyum kearahku.
Akupun membalas senyumnya.
“Naya,” panggil kak Haikal saat kami
sudah keluar dari ruangan Bos. “Iya, ada
apa ya Kak?” jawabku. “Nggak. Cuma pengen bilang, semoga kita bisa bekerja sama
dengan baik ya,” katanya sambil tersenyum. “Tentu,” ucapku sambil tersenyum
juga.
Karena pekerjaan itu, intensitas
kami bertemu di kampus jadi semakin banyak. Kami juga sudah mulai akrab, bahkan
beberapa kali Kak Haikal menceritakan tentang masalahnya kepadaku, seringnya
dia bercerita tentang pacarnya. Yah, dia sudah mempunyai kekasih, namanya Ayu.
Aku senang dia bercerita kepadaku, karena itu artinya dia percaya aku bisa
menjaga rahasianya. Selain itu, sikapnya kepadaku seperti seorang kakak kepada
adiknya. Kalian tahu, dari dulu aku ingin sekali memiliki kakak laki-laki.
Entah darimana asalnya perasaan ini, tapi tiap melihat teman-temanku
diperhatikan oleh kakak laki-laki mereka, entah dijemput ketika pulang sekolah,
dibela ketika ada yang menganggu, dihibur ketika ada masalah, atau sekedar
saling melempar candaan konyol khas kakak adik pada umumnya. Yah, walaupun kak
Haikal tidak melakukan semuanya hal yang aku sebutkan diatas, tapi aku merasa
diperlakukan oleh adik olehnya.
Siang ini rencananya kami akan
membuat artikel tentang persahabatan. Kemarin Mbak Ros sudah memberitahuku
bahwa untuk artikel ini kami perlu membuat ulasan tentang persahabatan yang
dijalani oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. Seperti biasanya kami bertemu
di danau dekat gedung fakultas kami. Tapi hari ini ada yang aneh dengan kak
Haikal, seperti ada masalah yang ia pikirkan.
“Kak, kakak lagi ada masalah ya?”
tanyaku ketika usulku tak direspon oleh kak Haikal yang malah asik dengan
lamunannya. Ia tersentak kaget. “Eh, kenapa Nay?. Kamu bilang apa tadi?”
tanyanya. “Kakak lagi ada masalah apa sampai nggak focus ngerjain artikel?”tanyaku
kemudian. Dia hanya diam tak menanggapi pertanyaanku. Heh, kalau begini aku
yang jadi jengkel, dia yang minta bertemu hari ini untuk membahasnya, eh malah
dia yang tidak focus dan mengabaikanku. Jika akhirnya seperti ini, lebih baik
tadi aku mengerjakan tugasku yang seabrek itu. Aku men-save sedikit kata yang
sudah kuketik tadi dan segera membereskan laptop dan buku catatanku.
“Nay, mau kemana?” Tanya kak Haikal
melihatku berberes. “Kayaknya kakak lagi gak bisa konsen ngerjain artikel, jadi
mending kita bikin lain kali aja ya. Lagipula deadlinenya masih 2 minggu lagi
kog, masih lumayan lama.” Kataku. “aku pulang kak,” pamitku sambil bersiap
berdiri. “Aku putus sama Ayu, Nay.”katanya membuatku mengurungkan niatku untuk
pulang. “Putus?”kataku kaget. Dan akhirnya sore itu kuhabiskan di pinggir
danau, mendengarkan cerita putusnya cinta kak Haikal.
Sudah seminggu sejak kak Haikal
putus dengan Ayu. Dia sudah terlihat gembira lagi. Sekarang kami sedang bersama
membahas artikel waktu itu. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan.
Menurutku itu bisa saja terjadi, malah mungkin mereka akan saling melengkapi.
Perempuan yang kata orang selalu menggunakan hati dan perasaannya saat
menghadapi suatu peristiwa dan laki-laki yang selalu menggunakan logikanya dalam
mengahadapi suatu kejadian, bukankah suatu paduan yang bagus? Tapi bagaimanapun
pertemuan yang intens dan keakraban yang terjalin bisa saja malah menjadi suatu
jembatan untuk perasaan lain yang seharusnya tidak dirasakan oleh seorang
sahabat. Cinta. Yah, satu kata itu bukankah paling tidak dapat dikontrol oleh
hati dan perasaan manusia, yang memiliki IQ tinggi sekalipun? Apalagi ada
pepatah jawa yang berbunyi “Witing trisno jalaran seko kulino” yang artinya
cinta yang tumbuh karena seringnya kebersamaan yang dilalui bersama. Dengan
adanya persahabatan, bukankan sepasang manusia akan lebih beresiko merasakan
perasaan yang satu ini?
Aku jadi teringat hubunganku dengan
kak Haikal, bukankah kami sekarang juga bisa disebut bersahabat. Saling berbagi
cerita baik senang maupun sedih. Aku sekarang juga sudah mulai sedikit terbuka
menceritakan tentang diriku kepadanya. Tentang impianku menjadi penulis novel
yang bisa menginspirasi banyak orang, tentang keluargaku yang terkadang
menjengkelkan tapi juga sangat kurindukan, dan juga tentang keinginanku yang sangat besar untuk
memiliki seorang kakak laki-laki. Bukankah kami semakin terlihat seperti kakak
dan adik, berbagi cerita bersama, dan saling menghibur ketika ada yang sedih.
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri memikirkan semua itu.
“Heh, ditanyain malah senyum-senyum
sendiri.” Kata kak Haikal sambil mengacak-acak rambutku. “hei, Kakak. Sudah
kubilang jangan merusak tatanan rambutku. Menyebalkan.” Kataku sambil pura-pura
marah. Padahal dalam hatiku beteriak-teriak senang. Entah mengapa ketika
tangannya berada dikepalaku aku menjadi sangat senang, seperti merasakan
euphoria karena menjadi juara pertama dalam sebuah perlombaan. Jantungku juga
jadi berdebar sangat kencang dan jangan lupakan pipiku yang tiba-tiba menjadi
panas. Saat kak Haikal entah itu mengelus kepalaku maupun mengacak-acak
rambutku aku seperti merasakan bahwa dia benar-benar menyayangiku dan aku
benar-benar merasa seperti memiliki orang yang bisa kupercaya dan membuatku
nyaman.
“memang apa sih yang sedang kamu
pikirkan adik kecil,” katanya kemudian. “Ahh, aku sepertinya tahu. Saat ada
seorang gadis yang tersenyum tanpa alasan sepertimu tadi, bisaanya ia sedang
memikirkan orang yang ia sukai. Hei, kamu sedang memikirkan orang yang kamu
taksir ya?”katanya dengan senyum yang seolah menggodaku. “apa sih,
ngarang.”sahutku sambil pura-pura sibuk mengedit artikel yang kami buat. Aku
sedang memikirkanmu tahu kak, kataku dalam hati. “Kalau benar juga nggak apa-apa kali, Nay.
Ahh… adik kecilku sudah mulai naksir-naksiran. Hei, awas saja jika nanti kamu
melupakanku setelah punya pacar ya.” Katanya dengan wajah sok galak. Aku
tergelak tak bisa menahan tawaku. “ahh, sudah-sudah. Kenapa malah membahas hal
seperti ini, lebih baik kita selesaikan artikel ini kakak, pak bos sudah
menagihnya semalam,” kataku kemudian. “Cih, mengalihkan pembicaraan.”cibirnya,
tapi kemudian mengikutiku yang sudah berkutat lagi dengan artikel kami, walau
kadang tertawa kecil mengingat kata-katanya.
“Siang Kak Haikal, Hai Nay,” sapa
seseorang. “hei Tar. Kog baru datang?” balas kak Haikal, sedang aku hanya
tersenyum kemudian pura-pura sibuk dengan artikel itu lagi. “hehe, iya kak. Tuh
ditinggal sama Naya.” Jawab Tari setengah bercanda. “Kenapa tadi gak telfon,
kan bisa kujemput.” Kata kak Haikal menimpali kata-kata Tari. Heh, kenapa dia
menawarkan diri menjemput Tari, aku saja tidak pernah ditawarinya. Hanya kalau
aku meminta dia akan mejemputku. Tapi akhir-akhir ini mereka memang terlihat
dekat dan aku yang melihatnya sedikit merasa tidak rela. Aku seperti tidak
ingin membagi perhatian kak Haikal dengan Tari. Hmm, apa mereka saling menyukai
ya? Ahh.. aku tidak mau memikirkannya lagi, membuat kepalaku pusing.
“Nay,
aku resmi jadian dengan Tari,”katanya sambil tersenyum gembira.
“Hei,
kamu gak ngasih ucapan selamat ke aku? ish.. adik yang jahat.”katanya sambil
berpura-pura marah.
“Congratulation,
brother…”
Kuhela nafasku ketika mengingat
percakapanku dan kak Haikal kemarin. Walaupun aku sudah menduga bahwa kedekatan
mereka akhir-akhir ini pasti akan berujung pada hal ini, tetap saja aku
terkejut dan… sedikit marah. Sekarang aku tersadar bahwa aku memang memendam
perasaan suka kepada kak Haikal, bukan rasa suka seorang adik kepada kakak
laki-lakinya, tapi perasaan suka kepada lawan jenis. Tapi apalagi yang bisa
kulakukan sekarang memangnya. Aku tidak akan pernah mau merusak kebahagiaan dua
orang yang kusayangi itu.
Drtttt… drtttt… drttt..
Kuambil handphoneku yang bergetar
tanda ada sms masuk. Dari kak Haikal, mengajakku menyelesaikan artikel baru
kami yang harus terkumpul lusa. Segera kuambil jaket dan tasku. Sepuluh menit
kemudian aku sudah sampai dipinggir danau tempat kami bisaa berdiskusi bersama.
Kami pun membahas pekerjaan kami seolah tak terjadi apapun diantara kami.
Padahal didalam hatiku sakit, bahkan berkali-kali air mataku mau menetes tiap
teringat bahwa Kak Haikal telah memiliki Tari sebagai kekasihnya.
“Kak, aku ke toilet sebentar
ya,”ijinku. Dia hanya menganggapi dengan mengangguk. Lima menit kemudian,
ketika aku kembali dari toilet kulihat kak Haikal sedang menbaca sesuatu di
layar laptopku. “Kakak lagi baca apa di lap.. top.. ku..” suaraku semakin
memelan diakhir kalimat ketika aku melihat apa yang sedang dibacanya. Ya Allah,
itu kan tulisan yang kubuat sewaktu aku tahu Kak Haikal dan Tari resmi menjadi
sepasang kekasih. Disitu aku menuliskan bahwa aku menyukai kak Haikal.
Kutuliskan juga rasa sakit yang kurasakan saat tau mereka berpacaran.
“Nay… kamu… gimana bisa.. kamu…”
ucap kak Haikal terbata, seakan tidak percaya tentang apa yang sudah dia baca.
Aku hanya terdiam dan mengambil laptopku dari hadapannya. “Bilang kalau yang
aku baca tadi gak bener Nay…” kata kak Haikal dengan nada tegas. “Nay..”
pekiknya membuatku terkejut. Memang apa yang salah kalau aku memiliki perasaan
kepadanya. Ini bukan mauku juga jatuh cinta kepadanya. Tak kusadari air mataku
sudah menetes. Aku langsung membereskan peralatanku dan beranjak pergi dari
tempat itu tanpa menghiraukan panggilan kak Haikal kepadaku.
Malamnya dia terus menerus mencoba
untuk menelfonku, tapi tak pernah kuangkat. Bukan apa-apa, aku hanya tak tau
lagi apa yang harus kukatakan padanya. Akhirnya aku menyerah pada panggilannya
yang ke-limabelas.
“Halo…” ucapku pelan.
“Naya maaf…” kata kak Haikal.
“Gak kak, ini bukan salah kakak atau
siapapun, memang jalannya sudah seperti ini.” Kataku mencoba bersikap bijak.
“Tapi kamu sakit, Nay…” katanya
frustasi. “Tari sahabat kamu dan aku… aku udah nganggep kamu kayak adik aku
sendiri,” ucapnya kemudian.
“Jangan bilang ke Tari kak, dia
pasti akan bingung dan sedih. Aku gak akan kenapa-kenapa kalau kakak bersikap biasa
saja. Tolong lupain aja apa yang pernah kakak baca tadi, anggap itu bukan
sesuatu yang penting. Aku mohon kak.” Kataku.
“Gimana bisa aku…” tuuuttttt.
Kumatikan panggilan itu segera. Aku sudah tidak bisa lagi menahan air mataku.
Dan akhirnya malam itu kuhabiskan dengan menangisi kisah cintaku yang pertama.
Cinta sepihak. Cinta pertamaku yang hanya bertepuk sebelah tangan.
Hari hari berikutnya semuanya berjalan seperti
biasa. Hanya saja sekarang Tari selalu ikut ketika aku dan Kak Haikal bertemu.
Tak jarang mereka mengumbar kemesraan dihadapanku. Sakit memang, tapi aku
berusaha untuk terlihat bisaa saja. Kak Haikal juga menuruti perkataanku waktu
itu yang menyuruhnya bersikap seperti tak pernah tau apapun tentang perasaanku.
Tapi tak jarang aku memergokinya sedang menatapku dengan tatapan seperti tidak
tega dan merasa bersalah, jika sudah begitu aku hanya akan tersenyum tipis
seolah mengatakan ‘I’m fine’ atau memalingkan wajahku begitu saja.
Aku sedih tapi juga lega, lega
karena walaupun dia sudah tahu perasaanku, dia tetap bersikap bisaa bukannya
merasa risih dan terganggu. Dia tetap memperlakukan dan memperhatikanku seperti
adiknya, walau kusadari sekarang perhatiannya sudah lebih teralihkan kepada
Tari yang notabene adalah kekasihnya. Dan aku memakluminya.
Tapi semakin lama kurasakan dia
sudah mulai menarik diri dariku. Tak banyak lagi hal yang kami lakukan bersama,
hanya sesekali bertemu untuk membahas pekerjaan kami. Berkirim pesan pun sudah
jarang, karena dia tidak pernah lagi membalas pesan yang kukirimkan kepadanya.
Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh pernyataan pak bos yang mengatakan bahwa
aku dan kak Haikal sudah tidak perlu berada dalam satu tim lagi. Alasannya
karena pak bos pikir bahwa kak Haikal sudah cukup bisa bekerja sendiri dan
akupun begitu. Akupun menerimanya tanpa bertanya lebih jauh walau didalam hati
terbersit bahwa mungkin saja kak Haikal yang meminta hal ini. Jika iya,
bukankah sudah jelas bahwa dia memang tak ingin lagi memiliki hubungan
denganku. Aku marah dan sedih, tapi sekali lagi, memangnya aku bisa apa?
Esoknya di kampus tanpa disengaja
aku bertemu dengannya. Hatiku tergerak untuk menyapa dan mengajaknya bicara,
walau mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. “Kak Haikal,” panggilku
kepadanya. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik kepadaku. “Bisa kita bicara
sebentar?” Lanjutku. Dia mengangguk dengan wajah ragu. Kamipun pergi ketempat
yang menjadi tempat favorite kami dikampus, danau.
“Kak Haikal apa kabar?” kataku
mencoba memulai pembicaraan dengan berbasa-basi.
“Baik, kamu sendiri?” jawabnya. “Alhamdulillah,
seperti yang kakak lihat.” Kataku sambil tersenyum. Kami terdiam lagi cukup
lama. “Kenapa Kak? Ada apa dengan sikap kakak akhir-akhir ini?” ucapku
akhirnya. “Maaf Nay, aku nggak bisa lagi bersikap seolah tak ada apapun yang
terjadi diantara kita. Kamu akan semakin sakit, Nay. Lebih baik kita saling
menjauh dan menjalani hidup kita masing-masing mulai sekarang.” Ucapnya tanpa
sekalipun memandang wajahku. “Bukankah dulu kakak bilang akan menjadi kakak
yang baik untukku? Apa ini kelakuan seorang kakak? Meninggalkan adiknya begitu
saja,” ucapku setengah berteriak. Aku tahu aku konyol, bagaimanapun aku bukan
adik yang sebenarnya. Aku tidak memiliki hak untuk meminta hal seperti ini
kepadanya. Tapi apalagi yang bisa kulakukan untuk menahannya supaya dia tetap
berada disampingku? “Maaf…” hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya
sebelum beranjak pergi meninggalkanku dan juga luka dihatiku.
3
tahun kemudian….
Setelah lulus dari kuliah S1-ku, aku
mendaftar sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu Sekolah Dasar yang bisa
dibilang favorite dan membuka kelas bilingual. Hari ini adalah hari pertamaku
bekerja. Sejauh ini semua berjalan dengan baik. Kelas yang harus kuajar berisi
murid-murid yang cerdas dan cepat memahami apa yang kujelaskan. Yah, walaupun
ada satu-dua yang terkadang membuat gaduh, tapi aku masih merasa itu wajar
untuk anak seumur mereka. Hari ini aku sudah mengajar 4 kelas. Melelahkan
sekali. Sebenarnya aku hanya mendapat jatah untuk mengajar 2 kelas setiap
harinya, tapi karena salah satu guru Bahasa Inggris sedang berhalangan hadir,
jadi aku ditugaskan oleh Kepala Sekolah untuk menggantikannya. Untungnya hanya
untuk hari ini, jadi besok pasti tidak akan selelah ini.
“Ibu Naya,” panggil pak Kepala
sekolah.
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya
bantu?” jawabku.
“Saya mau memperkenalkan guru bahasa
Inggris yang kemarin ibu gantikan tugas mengajarnya. Kebetulan beliau sudah
masuk hari ini.” Kata pak Kepala sekolah. Tak lama seorang pria masuk ke ruang
guru. DEG. Dia kan….
“Bu Naya, ini Pak Haikal. Dan Pak
Haikal, ini guru Bahasa inggris kita yang baru, Ibu Kanaya Annisa.” Kata Bapak
Kepala Sekolah memperkenalkan kami berdua. Kami terpaku saling menatap sejenak.
Kak Haikal. Sudah hampir 3 tahun sejak kejadian itu kita tidak saling bertemu
maupun berkomunikasi, dan kini tiba-tiba kami dipertemukan lagi dengan cara
seperti ini. Apa ini rencanamu Ya Allah?
Hari itu hari Minggu. Kak Haikal
tiba-tiba mengajakku ke tempat favorite kita dulu saat kita masih kuliah,
pinggir danau didekat gedung fakultas kami. Sebagai seorang teman, tentu aku
mengiyakan saja ajakannya, bagaimanapun kami dulu adalah teman yang cukup
dekat. Lagipula, setelah kami bertemu hubungan kami juga mulai membaik, seakan
pertemuan terakhir kami waktu itu tak pernah terjadi. Dia kembali lagi menjadi
sosok seorang kakak yang selalu aku impikan. Entah apa maksudnya, tapi aku
yakin dia tak berniat jahat kepadaku. Aku mengenalnya, dan dia adalah orang
yang baik.
“Udah lama banget ya kita nggak
kesini bareng.” Katanya. Aku hanya menanggapi dengan menganggukan kepalaku.
“Nay, maafin Kakak ya.” Katanya kemudian, membuatku menatapnya dengan heran.
“Pertemuan terakhir kita, gak seharusnya aku ngomong seperti itu ke kamu,
padahal aku kan udah menawarkan diri untuk jadi kakak kamu. Kakak macam apa
yang ngomong seperti itu ke adiknya dan ninggalin dia gitu aja.”ucapnya panjang
lebar.
“Kakak macam apa? Kakak adalah kakak
yang paling baik.” Ucapku sambil tersenyum. Dia menatapku dengan ekspresi kaget
yang sangat lucu. “Seorang kakak yang terpaksa harus menjauhi adiknya agar
adiknya tidak lebih merasakan sakit karena rasa cinta, dan juga agar adiknya
tidak memaksakan diri bepura-pura bahagia melihat dia bersama kekasihnya.”
Kataku. “Tapi tetap saja…”kata kak Haikal. “Tetap saja, seorang adik tidak
seharusnya mencintai kakaknya sendiri.”ucapku memotong kalimat yang akan
diucapkan oleh kak Haikal.
“Aku yang seharusnya minta maaf,
Kak. Aku yang tidak tahu diri. Padahal kakak sudah mau menjadi kakakku,
memperlakukanku seperti adik kandung kakak, membuat impianku memiliki kakak
laki-laki yang terlihat mustahil bisa menjadi kenyataan. Tapi aku malah jatuh
cinta, dan merusak segala hal baik yang telah kakak berikan. Aku yang
seharusnya meminta maaf.” Kataku penuh penyesalan. Kami terdiam lagi, sibuk
dengan pikiran kami masing-masing.
“Kalau begitu, yang lalu biarlah
berlalu. Sekarang kita bisa kembali seperti dulu kan kak? Kakak mau jadi
kakakku lagi kan?” ucapku sambil tersenyum. Kak Haikal terdiam sebentar,
kemudian menggelengkan kepalanya, membuatku kaget dan memelototkan mataku.
“Sekarang aku nggak bisa kayak dulu lagi, Nay. Aku pengen lebih mengenalmu,
tapi bukan sebagai adik dan kakak.”ucapnya dengan yakin. “Maksud kakak…?”kataku
ragu. Kak Haikal menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Kamu mau kan
memberiku kesempatan, Nay?”katanya dengan sorot mata yang tulus dan yakin. Dan
aku menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya. Ternyata cinta pertamaku tidak
berakhir mengenaskan seperti yang kuduga dulu, karena cinta itu menemukan waktu
dan jalannya sendiri untuk bahagia. Dan ketika cinta yang kuharapkan menawarkan
balasan untukku, tak ada jawaban lain yang kuberikan selain “IYA”, karena aku
masih mencintainya, cinta pertamaku…
Cieeee Cieeee kerreeeeen
BalasHapushaha, jadi malu... tulisanku amatir banget ya dek?
BalasHapusEngga ogh mba.... Kerrrreeeen ����
BalasHapusHahaha kyaknya q tau dehhhh kisah itu...
Hi hi hi ��