Jumat, 05 September 2014

The First

Kringg.. Kringg..
Handphoneku membunyikan alarm yang ku atur semalam sebelum aku tidur. Dengan mata setengah terpejam aku mematikan alarm dan melihat jam di layar handphoneku. Baru jam 4 pagi, tapi aku harus segera bersiap jika tidak ingin terlambat. Hari ini adalah hari pertamaku menjadi seorang mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di kotaku. Seperti sudah menjadi tradisi, mahasiswa dan mahasiswi baru haruslah menjalani penggojlokan selama seminggu. Yah, walaupun beberapa tahun yang lalu sempat dihapuskan kegiatan penggojlokan mahasiswa baru seperti ini, tapi banyak Universitas yang tetap meneruskan tradisinya. Kalau dulu kegiatan seperti ini disebut OSPEK namun kali ini sebutan untuk kegiatan ini adalah PPA ( Program Pengenalan Akademik ). Hari ini kami diharuskan untuk sampai dikampus jam 6 pagi, dan karena aku tinggal di asrama yang hanya menyediakan 8 kamar mandi untuk 48 anak, otomatis aku harus bangun lebih pagi agar tidak antri.
Namaku Kanaya Annisa. Usiaku 17 tahun. Aku berasal dari keluarga yang sederhana. Sebelumnya aku bersekolah di SMK dengan harapan setelah lulus aku bisa langsung bekerja dan membantu keuangan keluargaku. Tapi Allah memberikan jalan yang berbeda dari rencana awalku. Prestasiku di SMK bisa dibilang cukup membanggakan. Aku memenangkan berbagai lomba antar SMK dan juga selalu menjadi juara umum. Akhirnya, karena dukungan dari guru-guru, teman-teman, dan tentu saja orang tuaku, aku memberanikan diri untuk mendaftar ke perguruan tinggi dan Alhamdulillah, Allah memberikan jalan lebih baik dari yang kuharapkan, yaitu sebuah Beasiswa.
Tanpa sarapan pagi, aku berjalan bersama maba (mahasiswa baru) yang lain ke fakultas kami masing-masing. Kami saling berkenalan dan sedikit bertanya tentang jurusan dan asal daerah kami. Dan darisana aku berkenalan dengan salah seorang teman yang satu jurusan denganku, Jurusan Bahasa Inggris. Namanya Mentari, tapi dia menyuruhku memanggilnya Tari. Dari awal berkenalan aku sudah bisa melihat bahwa dia adalah orang yang menyenangkan dan periang.
Masa PPA sudah berakhir. Sekarang saatnya aku menjalani keseharianku sebagai mahasiswa yang katanya dikelilingi berbagai macam tugas dari sang dosen. Tak masalah bagiku, karena dulu saat SMK aku juga sudah terbisaa menerima banyak tugas dari guruku.
“Nay, kamu mau ikut organisasi apa?” Tanya Tari, yang sekarang menjadi teman dekatku karena selain satu jurusan, kami juga satu rombel (rombongan belajar).
“Nggak tau nih, Tar. Aku masih bingung. Kamu sendiri gimana?” aku balas bertanya kepadanya.
“Aku pengen coba ikut Writing Club yang ditingkat jurusan. Kata beberapa senior kegiatannya keren dan bermanfaat banget.” Jawabnya. Writing Club? Sebenarnya aku sangat suka menulis. Mungkin dengan ikut kegiatan ini aku bisa lebih meningkatkan skillku dalam tulis-menulis. Akhirnya aku memutuskan untuk bergabung di klub itu.
            Hari ini hari Sabtu. Tidak ada perkuliahan di hari Sabtu dan Minggu. Lalu mengapa aku berada di sebuah ruang kelas di kampusku? Karena hari ini adalah hari pertama pertemuan Writing Club semester ini. Kulihat ada sekitar 15 senior dan 20 teman seangkatanku yang berada diruang kelas yang cukup besar ini.
            “Good morning, freshmen.” Sapa salah satu senior di depan kelas. Serempak kami menjawab salam senior tersebut. “Terimakasih sudah datang dan mengikuti club ini. Perkenalkan, saya Haikal, ketua Writing Club ini. Semester 5 prodi pendidikan. Disini nantinya kita akan belajar dan sharing satu sama lain tentang kepenulisan, baik kepenulisan ilmiah maupun sastra. Yang perlu kalian ingat adalah, disini kita sharing sebagai teman, jadi tidak ada kalimat yang semester atas yang lebih pandai dan lebih mengerti. Maka dari itu, buat kalian, freshmen, speak up your ideas, and let’s share it each other.” Tepuk tangan menggema didalam ruang kelas.
            Club yang cukup mengasyikkan, dihari pertama ini hanya diisi dengan perkenalan dan keakraban senior dengan junior, untuk selanjutnya pertemuan diadakan tiap hari Selasa jam 3 sore.
            Sebenarnya aku bisa dibilang cukup professional dalam dunia tulis menulis. Beberapa tulisanku bahkan sudah menghiasi majalah remaja yang lumayan terkenal. Berawal dari dua tahun yang lalu, saat aku masih kelas 2 SMK. Aku yang memang hobi sekali menulis mengikuti lomba menulis artikel yang bertemakan tentang kehidupan sekolah yang diadakan oleh salah satu majalah terkenal, yaitu majalah FAME. Dan Alhamdulillah di lomba itu aku menyabet juara pertama. Kemudian artikel dan profilku dimuat di majalah itu dalam salah satu edisinya. Beberapa hari setelah artikel itu terbit, pihak majalah menghubungiku dan menawariku untuk menjadi salah satu freelance di majalah mereka. Aku bisa bekerja online, mengirim artikel atau tulisan apapun yang kubuat lewat email, dan hanya perlu pergi ke gedung majalah tersebut sebulan sekali untuk eveluasi. Akupun menyetujuinya. Sekarang sudah 2 tahun aku bekerja disini. Semua karyawan sudah mengenalku dan sekarang aku datang kekantor redaksi ini 2 minggu sekali karena letaknya dekat dengan kampus dan asramaku.
            “Dek, ada kerjaan baru tuh dari pak bos.” Kata mbba Ros ketika aku tiba di kantor. Aku mengerutkan dahi heran. Kerjaan baru apa? Aku kan penulis freelance, apa iya aku disuruh merangkap jadi OB? Kugelengkan kepalaku menepis pikiran konyol yang baru saja melintas dikepalaku. “Apaan mbba?”tanyaku kemudian. “Langsung ke ruangan bos aja deh,”jawabnya. Akupun mengangguk dan bergegas pergi ke ruangan bosku.
            Tok. Tok. Tok. Kuketuk pintu ruangan bosku. “Masuk.” Sahut suara dari dalam. Akupun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu. Ternyata bosku tidak sendiri di ruangannya. Ada seorang laki-laki yang sedang mengobrol dengannya, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya karena posisinya yang membelakangiku. “Ah, Nay.. kamu sudah datang. Silakan duduk.” Ucap pak bos ketika melihatku memasuki ruangannya. Akupun mendudukkan diriku di sofa di ruangan itu. “Perkenalkan, ini keponakan saya, Haikal. Dia akan mulai bekerja disini sebagai freelance sepertimu.” Kata pak bos mengenalkan laki-laki tadi. Loh, ini sepertinya kakak ketua Writing Club yang kemarin. “Haikal,”kata laki-laki itu sambil mengangsurkan tangannya. “Naya,”kataku sambil mejabat tangannya. “Jadi begini, Nay. Karena kamu sudah cukup berpengalaman dibidang ini, saya mau kamu membimbing keponakan saya ini. Mulai sekarang kalian akan bekerja sama dalam menulis artikel dan mencari berita. Karena saya tahu kalian satu kampus, jadi saya kira tidak akan jadi masalah tentang waktu bertemu kalian, kan? Kalian juga hanya perlu kemari 2 minggu sekali. Bagaimana?” aku? membimbing kak Haikal? Apa tidak salah? Kurasa dengan jabatannya sebagai ketua Writing Club membuktikan bahwa kemampuan menulisnya pasti diatas rata-rata, dan catat, dia adalah seniorku, dua tingkat diatasku. Bagaimana mungkin malah aku yang membimbingnya?
            “Naya. Kamu mendengarkan apa yang saya sampaikan barusan kan?” Tanya pak bos, mungkin karena aku tidak merespon apa yang beliau sampaikan. “Eh, iya pak saya mendengarkan apa yang bapak sampaikan tadi, hanya saja saya merasa pengalaman yang saya miliki masih sedikit sekali, apa bapak tidak salah menyuruh saya membimbing kak Haikal?” jawabku akhirnya. Pak Bos tersenyum menatapku, kemudian saling melempar senyum dengan kak Haikal. “Yah, kalau begitu jangan anggap ini sebagai beban untuk kamu membimbing Haikal. Kalian bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman bersama, tapi seperti yang saya katakan tadi kalian sekarang akan menjadi satu tim. Dan Naya, kamu tidak memiliki hak untuk menolak keputusan saya. Haikal juga sudah menyetujuinya tadi.” Jelas pak Bos panjang lebar. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke Kak Haikal yang ternyata sedang tersenyum kearahku. Akupun membalas senyumnya.
            “Naya,” panggil kak Haikal saat kami sudah keluar dari ruangan Bos.  “Iya, ada apa ya Kak?” jawabku. “Nggak. Cuma pengen bilang, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya,” katanya sambil tersenyum. “Tentu,” ucapku sambil tersenyum juga.
            Karena pekerjaan itu, intensitas kami bertemu di kampus jadi semakin banyak. Kami juga sudah mulai akrab, bahkan beberapa kali Kak Haikal menceritakan tentang masalahnya kepadaku, seringnya dia bercerita tentang pacarnya. Yah, dia sudah mempunyai kekasih, namanya Ayu. Aku senang dia bercerita kepadaku, karena itu artinya dia percaya aku bisa menjaga rahasianya. Selain itu, sikapnya kepadaku seperti seorang kakak kepada adiknya. Kalian tahu, dari dulu aku ingin sekali memiliki kakak laki-laki. Entah darimana asalnya perasaan ini, tapi tiap melihat teman-temanku diperhatikan oleh kakak laki-laki mereka, entah dijemput ketika pulang sekolah, dibela ketika ada yang menganggu, dihibur ketika ada masalah, atau sekedar saling melempar candaan konyol khas kakak adik pada umumnya. Yah, walaupun kak Haikal tidak melakukan semuanya hal yang aku sebutkan diatas, tapi aku merasa diperlakukan oleh adik olehnya.
            Siang ini rencananya kami akan membuat artikel tentang persahabatan. Kemarin Mbak Ros sudah memberitahuku bahwa untuk artikel ini kami perlu membuat ulasan tentang persahabatan yang dijalani oleh dua orang, laki-laki dan perempuan. Seperti biasanya kami bertemu di danau dekat gedung fakultas kami. Tapi hari ini ada yang aneh dengan kak Haikal, seperti ada masalah yang ia pikirkan.
            “Kak, kakak lagi ada masalah ya?” tanyaku ketika usulku tak direspon oleh kak Haikal yang malah asik dengan lamunannya. Ia tersentak kaget. “Eh, kenapa Nay?. Kamu bilang apa tadi?” tanyanya. “Kakak lagi ada masalah apa sampai nggak focus ngerjain artikel?”tanyaku kemudian. Dia hanya diam tak menanggapi pertanyaanku. Heh, kalau begini aku yang jadi jengkel, dia yang minta bertemu hari ini untuk membahasnya, eh malah dia yang tidak focus dan mengabaikanku. Jika akhirnya seperti ini, lebih baik tadi aku mengerjakan tugasku yang seabrek itu. Aku men-save sedikit kata yang sudah kuketik tadi dan segera membereskan laptop dan buku catatanku.
            “Nay, mau kemana?” Tanya kak Haikal melihatku berberes. “Kayaknya kakak lagi gak bisa konsen ngerjain artikel, jadi mending kita bikin lain kali aja ya. Lagipula deadlinenya masih 2 minggu lagi kog, masih lumayan lama.” Kataku. “aku pulang kak,” pamitku sambil bersiap berdiri. “Aku putus sama Ayu, Nay.”katanya membuatku mengurungkan niatku untuk pulang. “Putus?”kataku kaget. Dan akhirnya sore itu kuhabiskan di pinggir danau, mendengarkan cerita putusnya cinta kak Haikal.
            Sudah seminggu sejak kak Haikal putus dengan Ayu. Dia sudah terlihat gembira lagi. Sekarang kami sedang bersama membahas artikel waktu itu. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Menurutku itu bisa saja terjadi, malah mungkin mereka akan saling melengkapi. Perempuan yang kata orang selalu menggunakan hati dan perasaannya saat menghadapi suatu peristiwa dan laki-laki yang selalu menggunakan logikanya dalam mengahadapi suatu kejadian, bukankah suatu paduan yang bagus? Tapi bagaimanapun pertemuan yang intens dan keakraban yang terjalin bisa saja malah menjadi suatu jembatan untuk perasaan lain yang seharusnya tidak dirasakan oleh seorang sahabat. Cinta. Yah, satu kata itu bukankah paling tidak dapat dikontrol oleh hati dan perasaan manusia, yang memiliki IQ tinggi sekalipun? Apalagi ada pepatah jawa yang berbunyi “Witing trisno jalaran seko kulino” yang artinya cinta yang tumbuh karena seringnya kebersamaan yang dilalui bersama. Dengan adanya persahabatan, bukankan sepasang manusia akan lebih beresiko merasakan perasaan yang satu ini?
            Aku jadi teringat hubunganku dengan kak Haikal, bukankah kami sekarang juga bisa disebut bersahabat. Saling berbagi cerita baik senang maupun sedih. Aku sekarang juga sudah mulai sedikit terbuka menceritakan tentang diriku kepadanya. Tentang impianku menjadi penulis novel yang bisa menginspirasi banyak orang, tentang keluargaku yang terkadang menjengkelkan tapi juga sangat kurindukan, dan juga  tentang keinginanku yang sangat besar untuk memiliki seorang kakak laki-laki. Bukankah kami semakin terlihat seperti kakak dan adik, berbagi cerita bersama, dan saling menghibur ketika ada yang sedih. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri memikirkan semua itu.
            “Heh, ditanyain malah senyum-senyum sendiri.” Kata kak Haikal sambil mengacak-acak rambutku. “hei, Kakak. Sudah kubilang jangan merusak tatanan rambutku. Menyebalkan.” Kataku sambil pura-pura marah. Padahal dalam hatiku beteriak-teriak senang. Entah mengapa ketika tangannya berada dikepalaku aku menjadi sangat senang, seperti merasakan euphoria karena menjadi juara pertama dalam sebuah perlombaan. Jantungku juga jadi berdebar sangat kencang dan jangan lupakan pipiku yang tiba-tiba menjadi panas. Saat kak Haikal entah itu mengelus kepalaku maupun mengacak-acak rambutku aku seperti merasakan bahwa dia benar-benar menyayangiku dan aku benar-benar merasa seperti memiliki orang yang bisa kupercaya dan membuatku nyaman.
            “memang apa sih yang sedang kamu pikirkan adik kecil,” katanya kemudian. “Ahh, aku sepertinya tahu. Saat ada seorang gadis yang tersenyum tanpa alasan sepertimu tadi, bisaanya ia sedang memikirkan orang yang ia sukai. Hei, kamu sedang memikirkan orang yang kamu taksir ya?”katanya dengan senyum yang seolah menggodaku. “apa sih, ngarang.”sahutku sambil pura-pura sibuk mengedit artikel yang kami buat. Aku sedang memikirkanmu tahu kak, kataku dalam hati.  “Kalau benar juga nggak apa-apa kali, Nay. Ahh… adik kecilku sudah mulai naksir-naksiran. Hei, awas saja jika nanti kamu melupakanku setelah punya pacar ya.” Katanya dengan wajah sok galak. Aku tergelak tak bisa menahan tawaku. “ahh, sudah-sudah. Kenapa malah membahas hal seperti ini, lebih baik kita selesaikan artikel ini kakak, pak bos sudah menagihnya semalam,” kataku kemudian. “Cih, mengalihkan pembicaraan.”cibirnya, tapi kemudian mengikutiku yang sudah berkutat lagi dengan artikel kami, walau kadang tertawa kecil mengingat kata-katanya.
            “Siang Kak Haikal, Hai Nay,” sapa seseorang. “hei Tar. Kog baru datang?” balas kak Haikal, sedang aku hanya tersenyum kemudian pura-pura sibuk dengan artikel itu lagi. “hehe, iya kak. Tuh ditinggal sama Naya.” Jawab Tari setengah bercanda. “Kenapa tadi gak telfon, kan bisa kujemput.” Kata kak Haikal menimpali kata-kata Tari. Heh, kenapa dia menawarkan diri menjemput Tari, aku saja tidak pernah ditawarinya. Hanya kalau aku meminta dia akan mejemputku. Tapi akhir-akhir ini mereka memang terlihat dekat dan aku yang melihatnya sedikit merasa tidak rela. Aku seperti tidak ingin membagi perhatian kak Haikal dengan Tari. Hmm, apa mereka saling menyukai ya? Ahh.. aku tidak mau memikirkannya lagi, membuat kepalaku pusing.
            “Nay, aku resmi jadian dengan Tari,”katanya sambil tersenyum gembira.
            “Hei, kamu gak ngasih ucapan selamat ke aku? ish.. adik yang jahat.”katanya sambil berpura-pura marah.
            “Congratulation, brother…”
            Kuhela nafasku ketika mengingat percakapanku dan kak Haikal kemarin. Walaupun aku sudah menduga bahwa kedekatan mereka akhir-akhir ini pasti akan berujung pada hal ini, tetap saja aku terkejut dan… sedikit marah. Sekarang aku tersadar bahwa aku memang memendam perasaan suka kepada kak Haikal, bukan rasa suka seorang adik kepada kakak laki-lakinya, tapi perasaan suka kepada lawan jenis. Tapi apalagi yang bisa kulakukan sekarang memangnya. Aku tidak akan pernah mau merusak kebahagiaan dua orang yang kusayangi itu.
            Drtttt… drtttt… drttt..                            
            Kuambil handphoneku yang bergetar tanda ada sms masuk. Dari kak Haikal, mengajakku menyelesaikan artikel baru kami yang harus terkumpul lusa. Segera kuambil jaket dan tasku. Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai dipinggir danau tempat kami bisaa berdiskusi bersama. Kami pun membahas pekerjaan kami seolah tak terjadi apapun diantara kami. Padahal didalam hatiku sakit, bahkan berkali-kali air mataku mau menetes tiap teringat bahwa Kak Haikal telah memiliki Tari sebagai kekasihnya.
            “Kak, aku ke toilet sebentar ya,”ijinku. Dia hanya menganggapi dengan mengangguk. Lima menit kemudian, ketika aku kembali dari toilet kulihat kak Haikal sedang menbaca sesuatu di layar laptopku. “Kakak lagi baca apa di lap.. top.. ku..” suaraku semakin memelan diakhir kalimat ketika aku melihat apa yang sedang dibacanya. Ya Allah, itu kan tulisan yang kubuat sewaktu aku tahu Kak Haikal dan Tari resmi menjadi sepasang kekasih. Disitu aku menuliskan bahwa aku menyukai kak Haikal. Kutuliskan juga rasa sakit yang kurasakan saat tau mereka berpacaran.
            “Nay… kamu… gimana bisa.. kamu…” ucap kak Haikal terbata, seakan tidak percaya tentang apa yang sudah dia baca. Aku hanya terdiam dan mengambil laptopku dari hadapannya. “Bilang kalau yang aku baca tadi gak bener Nay…” kata kak Haikal dengan nada tegas. “Nay..” pekiknya membuatku terkejut. Memang apa yang salah kalau aku memiliki perasaan kepadanya. Ini bukan mauku juga jatuh cinta kepadanya. Tak kusadari air mataku sudah menetes. Aku langsung membereskan peralatanku dan beranjak pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan panggilan kak Haikal kepadaku.
            Malamnya dia terus menerus mencoba untuk menelfonku, tapi tak pernah kuangkat. Bukan apa-apa, aku hanya tak tau lagi apa yang harus kukatakan padanya. Akhirnya aku menyerah pada panggilannya yang ke-limabelas.
            “Halo…” ucapku pelan.
            “Naya maaf…” kata kak Haikal.
            “Gak kak, ini bukan salah kakak atau siapapun, memang jalannya sudah seperti ini.” Kataku mencoba bersikap bijak.
            “Tapi kamu sakit, Nay…” katanya frustasi. “Tari sahabat kamu dan aku… aku udah nganggep kamu kayak adik aku sendiri,” ucapnya kemudian.
            “Jangan bilang ke Tari kak, dia pasti akan bingung dan sedih. Aku gak akan kenapa-kenapa kalau kakak bersikap biasa saja. Tolong lupain aja apa yang pernah kakak baca tadi, anggap itu bukan sesuatu yang penting. Aku mohon kak.” Kataku.
            “Gimana bisa aku…” tuuuttttt. Kumatikan panggilan itu segera. Aku sudah tidak bisa lagi menahan air mataku. Dan akhirnya malam itu kuhabiskan dengan menangisi kisah cintaku yang pertama. Cinta sepihak. Cinta pertamaku yang hanya bertepuk sebelah tangan.
             Hari hari berikutnya semuanya berjalan seperti biasa. Hanya saja sekarang Tari selalu ikut ketika aku dan Kak Haikal bertemu. Tak jarang mereka mengumbar kemesraan dihadapanku. Sakit memang, tapi aku berusaha untuk terlihat bisaa saja. Kak Haikal juga menuruti perkataanku waktu itu yang menyuruhnya bersikap seperti tak pernah tau apapun tentang perasaanku. Tapi tak jarang aku memergokinya sedang menatapku dengan tatapan seperti tidak tega dan merasa bersalah, jika sudah begitu aku hanya akan tersenyum tipis seolah mengatakan ‘I’m fine’ atau memalingkan wajahku begitu saja.
            Aku sedih tapi juga lega, lega karena walaupun dia sudah tahu perasaanku, dia tetap bersikap bisaa bukannya merasa risih dan terganggu. Dia tetap memperlakukan dan memperhatikanku seperti adiknya, walau kusadari sekarang perhatiannya sudah lebih teralihkan kepada Tari yang notabene adalah kekasihnya. Dan aku memakluminya.
            Tapi semakin lama kurasakan dia sudah mulai menarik diri dariku. Tak banyak lagi hal yang kami lakukan bersama, hanya sesekali bertemu untuk membahas pekerjaan kami. Berkirim pesan pun sudah jarang, karena dia tidak pernah lagi membalas pesan yang kukirimkan kepadanya. Sampai akhirnya aku dikejutkan oleh pernyataan pak bos yang mengatakan bahwa aku dan kak Haikal sudah tidak perlu berada dalam satu tim lagi. Alasannya karena pak bos pikir bahwa kak Haikal sudah cukup bisa bekerja sendiri dan akupun begitu. Akupun menerimanya tanpa bertanya lebih jauh walau didalam hati terbersit bahwa mungkin saja kak Haikal yang meminta hal ini. Jika iya, bukankah sudah jelas bahwa dia memang tak ingin lagi memiliki hubungan denganku. Aku marah dan sedih, tapi sekali lagi, memangnya aku bisa apa?
            Esoknya di kampus tanpa disengaja aku bertemu dengannya. Hatiku tergerak untuk menyapa dan mengajaknya bicara, walau mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. “Kak Haikal,” panggilku kepadanya. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik kepadaku. “Bisa kita bicara sebentar?” Lanjutku. Dia mengangguk dengan wajah ragu. Kamipun pergi ketempat yang menjadi tempat favorite kami dikampus, danau.
            “Kak Haikal apa kabar?” kataku mencoba memulai pembicaraan dengan berbasa-basi.
            “Baik, kamu sendiri?” jawabnya. “Alhamdulillah, seperti yang kakak lihat.” Kataku sambil tersenyum. Kami terdiam lagi cukup lama. “Kenapa Kak? Ada apa dengan sikap kakak akhir-akhir ini?” ucapku akhirnya. “Maaf Nay, aku nggak bisa lagi bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi diantara kita. Kamu akan semakin sakit, Nay. Lebih baik kita saling menjauh dan menjalani hidup kita masing-masing mulai sekarang.” Ucapnya tanpa sekalipun memandang wajahku. “Bukankah dulu kakak bilang akan menjadi kakak yang baik untukku? Apa ini kelakuan seorang kakak? Meninggalkan adiknya begitu saja,” ucapku setengah berteriak. Aku tahu aku konyol, bagaimanapun aku bukan adik yang sebenarnya. Aku tidak memiliki hak untuk meminta hal seperti ini kepadanya. Tapi apalagi yang bisa kulakukan untuk menahannya supaya dia tetap berada disampingku? “Maaf…” hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya sebelum beranjak pergi meninggalkanku dan juga luka dihatiku.
3 tahun kemudian….
            Setelah lulus dari kuliah S1-ku, aku mendaftar sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu Sekolah Dasar yang bisa dibilang favorite dan membuka kelas bilingual. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Sejauh ini semua berjalan dengan baik. Kelas yang harus kuajar berisi murid-murid yang cerdas dan cepat memahami apa yang kujelaskan. Yah, walaupun ada satu-dua yang terkadang membuat gaduh, tapi aku masih merasa itu wajar untuk anak seumur mereka. Hari ini aku sudah mengajar 4 kelas. Melelahkan sekali. Sebenarnya aku hanya mendapat jatah untuk mengajar 2 kelas setiap harinya, tapi karena salah satu guru Bahasa Inggris sedang berhalangan hadir, jadi aku ditugaskan oleh Kepala Sekolah untuk menggantikannya. Untungnya hanya untuk hari ini, jadi besok pasti tidak akan selelah ini.
            “Ibu Naya,” panggil pak Kepala sekolah.
            “Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawabku.
            “Saya mau memperkenalkan guru bahasa Inggris yang kemarin ibu gantikan tugas mengajarnya. Kebetulan beliau sudah masuk hari ini.” Kata pak Kepala sekolah. Tak lama seorang pria masuk ke ruang guru. DEG. Dia kan….
            “Bu Naya, ini Pak Haikal. Dan Pak Haikal, ini guru Bahasa inggris kita yang baru, Ibu Kanaya Annisa.” Kata Bapak Kepala Sekolah memperkenalkan kami berdua. Kami terpaku saling menatap sejenak. Kak Haikal. Sudah hampir 3 tahun sejak kejadian itu kita tidak saling bertemu maupun berkomunikasi, dan kini tiba-tiba kami dipertemukan lagi dengan cara seperti ini. Apa ini rencanamu Ya Allah?
            Hari itu hari Minggu. Kak Haikal tiba-tiba mengajakku ke tempat favorite kita dulu saat kita masih kuliah, pinggir danau didekat gedung fakultas kami. Sebagai seorang teman, tentu aku mengiyakan saja ajakannya, bagaimanapun kami dulu adalah teman yang cukup dekat. Lagipula, setelah kami bertemu hubungan kami juga mulai membaik, seakan pertemuan terakhir kami waktu itu tak pernah terjadi. Dia kembali lagi menjadi sosok seorang kakak yang selalu aku impikan. Entah apa maksudnya, tapi aku yakin dia tak berniat jahat kepadaku. Aku mengenalnya, dan dia adalah orang yang baik.
            “Udah lama banget ya kita nggak kesini bareng.” Katanya. Aku hanya menanggapi dengan menganggukan kepalaku. “Nay, maafin Kakak ya.” Katanya kemudian, membuatku menatapnya dengan heran. “Pertemuan terakhir kita, gak seharusnya aku ngomong seperti itu ke kamu, padahal aku kan udah menawarkan diri untuk jadi kakak kamu. Kakak macam apa yang ngomong seperti itu ke adiknya dan ninggalin dia gitu aja.”ucapnya panjang lebar.
            “Kakak macam apa? Kakak adalah kakak yang paling baik.” Ucapku sambil tersenyum. Dia menatapku dengan ekspresi kaget yang sangat lucu. “Seorang kakak yang terpaksa harus menjauhi adiknya agar adiknya tidak lebih merasakan sakit karena rasa cinta, dan juga agar adiknya tidak memaksakan diri bepura-pura bahagia melihat dia bersama kekasihnya.” Kataku. “Tapi tetap saja…”kata kak Haikal. “Tetap saja, seorang adik tidak seharusnya mencintai kakaknya sendiri.”ucapku memotong kalimat yang akan diucapkan oleh kak Haikal.
            “Aku yang seharusnya minta maaf, Kak. Aku yang tidak tahu diri. Padahal kakak sudah mau menjadi kakakku, memperlakukanku seperti adik kandung kakak, membuat impianku memiliki kakak laki-laki yang terlihat mustahil bisa menjadi kenyataan. Tapi aku malah jatuh cinta, dan merusak segala hal baik yang telah kakak berikan. Aku yang seharusnya meminta maaf.” Kataku penuh penyesalan. Kami terdiam lagi, sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
            “Kalau begitu, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita bisa kembali seperti dulu kan kak? Kakak mau jadi kakakku lagi kan?” ucapku sambil tersenyum. Kak Haikal terdiam sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya, membuatku kaget dan memelototkan mataku. “Sekarang aku nggak bisa kayak dulu lagi, Nay. Aku pengen lebih mengenalmu, tapi bukan sebagai adik dan kakak.”ucapnya dengan yakin. “Maksud kakak…?”kataku ragu. Kak Haikal menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Kamu mau kan memberiku kesempatan, Nay?”katanya dengan sorot mata yang tulus dan yakin. Dan aku menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya. Ternyata cinta pertamaku tidak berakhir mengenaskan seperti yang kuduga dulu, karena cinta itu menemukan waktu dan jalannya sendiri untuk bahagia. Dan ketika cinta yang kuharapkan menawarkan balasan untukku, tak ada jawaban lain yang kuberikan selain “IYA”, karena aku masih mencintainya, cinta pertamaku…


3 komentar:

  1. haha, jadi malu... tulisanku amatir banget ya dek?

    BalasHapus
  2. Engga ogh mba.... Kerrrreeeen ����
    Hahaha kyaknya q tau dehhhh kisah itu...
    Hi hi hi ��

    BalasHapus